
Sang Pendekar Keadilan yang Melampaui Sekat Hukum
Penulis: Rolly Toreh
Dalam sejarah hukum Indonesia, sulit menemukan sosok yang begitu murni mendedikasikan hidupnya demi keadilan seperti Yap Thiam Hien. Bagi pembaca LegalFinansial, sosok ini adalah standar tertinggi tentang bagaimana profesi hukum harus dijalankan: dengan keberanian, tanpa kompromi, dan bersih dari praktik transaksional.
1. Latar Belakang: Tumbuh di Tengah Ketidakadilan
Lahir di Koeta Radja (Banda Aceh) pada 25 Mei 1913, Yap tumbuh dalam keluarga peranakan Tionghoa. Pengalaman masa kecilnya menyaksikan diskriminasi rasial di era kolonial menanamkan benih perlawanan terhadap penindasan. Ia menempuh pendidikan hukum di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda, dan lulus pada tahun 1947. Bekal ilmu dari Eropa ini tidak ia gunakan untuk memperkaya diri, melainkan untuk membela mereka yang terpinggirkan.
2. Sejarah dan Pergerakan: Menembus Batas Ideologi
Yap Thiam Hien adalah salah satu pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bersama Adnan Buyung Nasution. Ia percaya bahwa akses terhadap keadilan adalah hak asasi, bukan komoditas.
Yang unik dari pergerakannya adalah sifatnya yang non-partisan. Yap tidak peduli dengan latar belakang politik kliennya. Ia pernah membela tokoh-tokoh yang berseberangan secara ideologi, mulai dari tokoh kiri hingga tokoh agama, hanya karena ia merasa hak-hak hukum mereka sedang diinjak-injak oleh penguasa.
3. Perjuangan: Integritas di Atas Keselamatan Pribadi
Perjuangan Yap sering kali membuatnya harus berhadapan langsung dengan dinding kekuasaan yang kokoh.
- Kasus Tahanan Politik: Ia vokal membela tahanan politik tanpa memungut bayaran, bahkan ketika hal itu membuatnya dicurigai oleh pemerintah.
- Melawan Korupsi: Yap dikenal sangat anti-suap. Baginya, menyuap hakim atau jaksa adalah pengkhianatan terhadap martabat manusia.
- Konsistensi: Ia pernah dipenjara tanpa proses pengadilan yang jelas karena sikap kritisnya, namun penjara tidak pernah memadamkan keberaniannya.
4. Aspek Hukum dan Finansial: “Lawyer” yang Hidup Sederhana
Di dunia hukum saat ini yang sering kali diukur dengan kemewahan, Yap Thiam Hien adalah anomali. Ia dikenal sebagai pengacara yang sangat jujur dalam urusan finansial.
- Ia sering kali membebaskan biaya jasa (pro bono) bagi klien miskin.
- Ia menolak keras segala bentuk gratifikasi atau “uang pelicin” dalam menangani perkara. Prinsipnya jelas: Keadilan tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.
5. Warisan (Legacy): Nama yang Menjadi Standar Moral
Warisan terbesarnya bukanlah harta benda, melainkan Yap Thiam Hien Award—sebuah penghargaan bergengsi bagi individu atau lembaga yang berjasa dalam penegakan HAM di Indonesia.
Hingga saat ini, namanya menjadi pengingat bagi para praktisi hukum dan finansial bahwa:
- Hukum harus ditegakkan demi kemanusiaan, bukan sekadar prosedur formal.
- Integritas adalah aset terbesar seorang profesional.
- Keberanian untuk berkata “salah” kepada penguasa adalah fungsi tertinggi seorang advokat.
“Jika Anda ingin menang perkara, jangan pilih saya. Tetapi jika Anda ingin kebenaran dan keadilan ditegakkan, saya akan berdiri di samping Anda.” — Yap Thiam Hien
