Baharuddin Lopa

lopa

Jaksa Agung yang Mengharamkan Suap dan Kompromi

Penulis: Rolly Toreh

1. Sejarah: Dedikasi Seumur Hidup pada Hukum

Lahir di Mandar, Sulawesi Barat, pada 27 Agustus 1935, Lopa memulai karier hukumnya dari bawah. Ia pernah menjabat sebagai Jaksa di berbagai daerah, menjadi Anggota Komnas HAM, hingga mencapai puncaknya sebagai Jaksa Agung RI pada tahun 2001. Meski jabatannya terus naik, gaya hidupnya tetap bersahaja—sebuah kontras yang tajam dengan citra pejabat tinggi pada masanya.

2. Latar Belakang: Kejujuran dari Hal Terkecil

Integritas Lopa tidak muncul tiba-tiba saat ia menjabat tinggi. Sejarah mencatat hal-hal kecil yang legendaris:

  • Bensin Dinas: Lopa pernah memarahi anaknya karena menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi. Ia bahkan menguras bensin mobil tersebut agar tidak sejengkel pun fasilitas negara digunakan untuk kepentingan keluarga.
  • Hadiah Ikan: Saat menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Selatan, ia pernah mengembalikan satu keranjang ikan yang dikirimkan oleh seorang pengusaha ke rumahnya, karena ia tahu itu adalah bentuk halus dari upaya mempengaruhi keputusannya.

3. Pergerakan: Sang Pemburu Kakap

Sebagai Jaksa Agung, Lopa melakukan pergerakan yang menggetarkan “zona nyaman” para penguasa ekonomi. Ia tidak ragu menyeret tokoh-tokoh besar yang selama ini dianggap “tak tersentuh” oleh hukum ke meja hijau. Ia bergerak cepat, efisien, dan tanpa beban politik. Baginya, satu-satunya atasan adalah Keadilan.

4. Perjuangan: Melawan Budaya Suap di Sektor Finansial

Dalam konteks finansial, Lopa sangat teliti terhadap kerugian negara. Ia memahami bahwa kebocoran anggaran dan korupsi adalah penghambat utama kesejahteraan.

  • Ia berjuang memastikan bahwa setiap sen uang negara yang dikorupsi harus kembali.
  • Ia menerapkan disiplin ketat di internal kejaksaan, memecat jaksa-jaksa yang terbukti “bermain” dengan pengusaha atau terdakwa.

5. Warisan (Legacy): Nama yang Menjadi “Hantu” bagi Koruptor

Meskipun masa jabatannya sebagai Jaksa Agung sangat singkat (hanya sekitar 1,5 bulan sebelum beliau wafat di Arab Saudi), warisannya tetap hidup. Lopa meninggalkan standar bahwa:

  1. Hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
  2. Integritas dimulai dari rumah. Jika seorang penegak hukum tidak bisa jujur pada keluarganya, ia tidak akan pernah bisa jujur pada negaranya.
  3. Ketegasan adalah bentuk kasih sayang tertinggi kepada rakyat.

“Jangan takut menegakkan hukum, jangan takut kehilangan jabatan. Karena jabatan itu hanyalah titipan, dan kejujuran adalah bekal abadi.” — Baharuddin Lopa

error: Content is protected !!